SELAMAT BERJUMPA DENGAN BLOGGER "PEMBURU ASA"
Teman-teman sebangsa dan setanah air, perkenankan saya (Sikarang Batukapur) makhluk dungu penggembala angin dari Belantara Pati Utara menyampaikan Pesan Perjuangan untuk anak-anak bangsa. Semoga bemanfaat,
Bahan Renungan :
KADO KEMERDEKAAN
UNTUK ANAK BANGSA
(Ulasan semenit,
bersama Sikarang Batukapur makhluk dungu penggembala angin)
Menghayati sejarah
kemerdekaan negeri ini, semestinya tidak diperlakukan seperti mendengarkan
dongeng pelipur lara ataupun nonton sandiwara, yang pada kelanjutannya hanya berperan sebagai hahan
cerita belaka. Namun yang lebih dirindukan pada saat ini adalah bagaimana cara
anak bangsa mengaplikasikan penghayatannya kedalam kepribadian yang relevan
dengan cita-cita luhur kemerdekaan.
Para pejuang, baik
yang gugur sebagai kusuma bangsa maupun yang lepas dari maut selaku saksi
hidup, telah berkorban sepenuh hati, sekuat tenaga dan pikiran untuk
mempertahankan jati diri bangsa dari keserakahan kaum imperalis. Bukan hanya
merebut kembali legalitas kekuasaan negeri ini kepada pemilik sejatinya, tetapi
penyapuan budaya barat yang tidak sesuai dengan moral luhur bangsa kita, tatkala
itu menjadi moment sentral para pendahulu untuk membebaskan belenggu “karakter
budak jaman”, ( artinya karakter yang mudah mengikuti konsep bangsa barat
sebatas yang mudah ditiru). Maka pengertian “MERDEKA” yang diafdholkan para
leluhur kita adalah bebas secara menyeluruh dalam menentukan segalanya sesuai
dengan kepribadian bangsa.
Yang perlu dijujuri
oleh anak bangsa dewasa ini adalah, sebuah pengakuan, apakah tujuan Medeka yang
sinkron dengan kepribadian murni bangsa kita sudah benar-benar tercapai ?. Tentu
saja belum, karena dogma kesewenangan maupun amoralitas kian menjalar bersenyawa
dengan pola kehidupan yang dipandang modern oleh sebagian generasi negeri ini.
Bukan sekedar
sensasi, bahwa koropsi, kolosi,
manilpulasi, nepotisme, bahkan pembenaran atas pemutarbalikan hukum
seolah makin menjamur mendholimi disetiap sendi kepentingan masyarakat, demi
memperoleh satu diantara tiga surga dunia, atau bisa juga ketiga-tiganya
sekalian, jika penguasa dunia ini berkenan merestui (oleh para pujangga, tiga
surga dunia itu disebut sebagai tiga perkara yang menggoda aklaq manusia, yaitu
harta, tahta,dan wanita.).
Di lain sisi lagi,
perilaku sebagian anak manusia penebar
aib yang dibanggakan, kendatipun para alim dibidangnya memformulasikan sebagai
tindakan yang tidak kalah dahsyat daya penghancurnya terhadap jiwa raga anak
manusia, sehingga berekor banyak penyesalan yang berkepanjangan. Permasalahan
semacam itu terjadi pada pengguna Narkoba dan pendamba free sex. Eeee….,
ternyata dari hasil observasi sempat
menayangkan angka prosentasi yang lumayan tinggi mendera kaum remaja.
Nah, mestinya
generasi negeri ini segera memayoritaskan kesadaran secara ilmiah yang terpadu
dengan kultural luhur bangsa, sehingga tidak mudah tergiur dengan arus
modernisasi yang menyesatkan, yang pada hakekatnya tidak berbeda dengan
penjajahan moralitas dan mentalitas bangsa. Marilah secepatnya kita renungkan,
kita hayati, dan kita kalkulasi untung ruginya bagi masa depan diri sendiri,
keluarga, masyarakat, agama, Negara dan bangsa, juga surga dan nerakanya yang
bakal kita peroleh besuk di alam yang abadi.
“ALLAHU AKBAR….!”…….“Merdeka”,
mari kita raih kemerdekaan moral dan mental bangsa untuk kembali pada cita-cita
Proklamasi 17 Agustus 1945. Semoga Allah SWT meridhoi dan membarokahi kita.
Amiin ya Robbal Alamiin.
Pati Utara, Agustus
2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar