Minggu, 01 September 2013

SELAMAT BERJUMPA DENGAN BLOGGER "PEMBURU ASA"

Teman-teman sebangsa dan setanah air, perkenankan saya (Sikarang Batukapur) makhluk dungu penggembala angin dari Belantara Pati Utara menyampaikan Pesan Perjuangan untuk anak-anak bangsa. Semoga bemanfaat,


Bahan Renungan :


KADO KEMERDEKAAN UNTUK ANAK BANGSA


(Ulasan semenit, bersama Sikarang Batukapur makhluk dungu penggembala angin)




Menghayati sejarah kemerdekaan negeri ini, semestinya tidak diperlakukan seperti mendengarkan dongeng pelipur lara ataupun nonton sandiwara, yang pada  kelanjutannya hanya berperan sebagai hahan cerita belaka. Namun yang lebih dirindukan pada saat ini adalah bagaimana cara anak bangsa mengaplikasikan penghayatannya kedalam kepribadian yang relevan dengan cita-cita luhur kemerdekaan.

Para pejuang, baik yang gugur sebagai kusuma bangsa maupun yang lepas dari maut selaku saksi hidup, telah berkorban sepenuh hati, sekuat tenaga dan pikiran untuk mempertahankan jati diri bangsa dari keserakahan kaum imperalis. Bukan hanya merebut kembali legalitas kekuasaan negeri ini kepada pemilik sejatinya, tetapi penyapuan budaya barat yang tidak sesuai dengan moral luhur bangsa kita, tatkala itu menjadi moment sentral para pendahulu untuk membebaskan belenggu “karakter budak jaman”, ( artinya karakter yang mudah mengikuti konsep bangsa barat sebatas yang mudah ditiru). Maka pengertian “MERDEKA” yang diafdholkan para leluhur kita adalah bebas secara menyeluruh dalam menentukan segalanya sesuai dengan kepribadian bangsa.

Yang perlu dijujuri oleh anak bangsa dewasa ini adalah, sebuah pengakuan, apakah tujuan Medeka yang sinkron dengan kepribadian murni bangsa kita sudah benar-benar tercapai ?. Tentu saja belum, karena dogma kesewenangan maupun amoralitas kian menjalar bersenyawa dengan pola kehidupan yang dipandang modern  oleh sebagian generasi negeri ini.

Bukan sekedar sensasi, bahwa koropsi, kolosi,  manilpulasi, nepotisme, bahkan pembenaran atas pemutarbalikan hukum seolah makin menjamur mendholimi disetiap sendi kepentingan masyarakat, demi memperoleh satu diantara tiga surga dunia, atau bisa juga ketiga-tiganya sekalian, jika penguasa dunia ini berkenan merestui (oleh para pujangga, tiga surga dunia itu disebut sebagai tiga perkara yang menggoda aklaq manusia, yaitu harta, tahta,dan wanita.).

Di lain sisi lagi, perilaku sebagian anak manusia  penebar aib yang dibanggakan, kendatipun para alim dibidangnya memformulasikan sebagai tindakan yang tidak kalah dahsyat daya penghancurnya terhadap jiwa raga anak manusia, sehingga berekor banyak penyesalan yang berkepanjangan. Permasalahan semacam itu terjadi pada pengguna Narkoba dan pendamba free sex. Eeee…., ternyata dari hasil observasi sempat  menayangkan angka prosentasi yang lumayan tinggi mendera kaum remaja.

Nah, mestinya generasi negeri ini segera memayoritaskan kesadaran secara ilmiah yang terpadu dengan kultural luhur bangsa, sehingga tidak mudah tergiur dengan arus modernisasi yang menyesatkan, yang pada hakekatnya tidak berbeda dengan penjajahan moralitas dan mentalitas bangsa. Marilah secepatnya kita renungkan, kita hayati, dan kita kalkulasi untung ruginya bagi masa depan diri sendiri, keluarga, masyarakat, agama, Negara dan bangsa, juga surga dan nerakanya yang bakal kita peroleh besuk di alam yang abadi.

“ALLAHU AKBAR….!”…….“Merdeka”, mari kita raih kemerdekaan moral dan mental bangsa untuk kembali pada cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. Semoga Allah SWT meridhoi dan membarokahi kita. Amiin ya Robbal Alamiin.

 

Pati Utara, Agustus 2013.

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar